Studi Investor Global

Tangisan minta bantuan? Investor milenial mengisyaratkan kebutuhan terhadap konsultasi investasi secara tatap muka

Meskipun investor menilai kemampuan sendiri secara berlebihan dalam memahami cara berinvestasi, mereka juga bersedia belajar lebih lanjut, yang berpotensi dapat menyelamatkan diri mereka dari kesulitan finansial di masa depan.

22/09/2016

Para investor muda adalah yang paling cenderung berpaling kepada penasihat keuangan untuk mencari bantuan, menurut sebuah studi global baru.

Kaum “milenial”, mereka yang berumur antara 18 dan 35 tahun, menunjukkan diri lebih siap untuk menerima nasihat pribadi dari seorang profesional di bidang investasi: 46% investor milenial mengatakan ingin meningkatkan pemahaman akan investasi dengan berbicara kepada penasihat keuangan, dibandingkan dengan 41% untuk investor yang berusia 36 tahun ke atas.

Temuan-temuan ini adalah bagian dari sebuah studi skala besar yang melibatkan 20.000 investor dari 28 negara, masing-masing berinvestasi sedikitnya setara dengan €10.000, ini cukup menunjukkan adanya keinginan tinggi untuk lebih memahami investasi.

Studi Investor Global Schroders menemukan bahwa sekitar sembilan dari sepuluh investor ingin meningkatkan pengetahuan investasi mereka. Temuan-temuan ini datang pada titik waktu yang kritis bagi pasar-pasar dunia, dan imbal hasil potensial yang mungkin mengikutinya, mengingat ketidakpastian politis global yang meningkat.

Riset itu juga menemukan bahwa kesenjangan di antara kawasan, dengan lebih banyak investor Asia yang mengungkapkan keinginan terhadap peningkatan pengetahuan daripada investor Eropa. Di Eropa, orang Belanda adalah yang paling kurang tertarik untuk ingin belajar dan orang Italia adalah yang paling bergairah.

Studi Investor Global Schroders 2016 menemukan:

  • 89% investor secara global ingin belajar lebih jauh untuk membantu mereka memahami investasi mereka sendiri
  • 94% milenial secara global ingin meningkatkan pengetahuan investasi mereka
  • Berbicara kepada seorang penasihat keuangan tetap menjadi pilihan populer di kalangan investor sebelum membuat keputusan investasi

Keinginan belajar investasi hendaknya membuat lega para pembuat kebijakan. Dengan meningkatkan pemahaman akan investasi dan berbicara kepada penasihat independen sebelum mengambil keputusan akhir, para investor bisa dicegah agar tidak terperosok ke dalam jebakan keuangan.

Hal ini juga penting, khususnya jika mengingat bahwa studi turut menemukan bahwa banyak investor terlalu percaya diri terhadap pemahamannya sendiri akan investasi dan memiliki harapan yang berpotensi tidak realistis sehubungan dengan sasaran keuangan mereka. Kombinasi keduanya nantinya bisa berakibat risiko kekecewaan terhadap pemenuhan target keuangan masa depan mereka.

Studi tahun 2016 juga menemukan:

  • Hanya 13% investor secara global mengakui bahwa pemahaman mereka akan investasi adalah lebih buruk daripada rata-rata
  • 63% tidak mengenali dengan benar hal-hal yang dilakukan seorang manajer investasi (tautan ke artikel)
  • Investor, secara rata-rata, mengharapkan imbal hasil 9,1% per tahun atas investasi mereka (tautan ke artikel)

Mengapa nasihat investasi menjadi makin penting

Krisis kredit 2008 telah menjungkirbalikkan dunia investasi. Selama sebagian besar waktu dari 20 tahun sebelumnya, para investor menikmati pertumbuhan dan imbal hasil investasi yang belum pernah dialami.

Kini kita hidup di sebuah dunia suku bunga rendah, pertumbuhan rendah, dan secara konsekuen, imbal hasil pun lebih rendah daripada yang dahulu dinikmati para investor.

Inilah sebuah dunia tempat para pembuat kebijakan kehabisan pilihan untuk mendongkrak pertumbuhan, namun para investor, karena yakin pada pemahaman sendiri terhadap investasi, mengharapkan imbal hasil yang mendekati dua digit atas investasi mereka.

Investor memerlukan pemahaman yang lebih baik akan investasinya; itulah mengapa industri manajemen investasi perlu bersikap lebih terbuka dan berbuat lebih banyak guna memenuhi keinginan belajar para investor. (tautan ke kutipan/artikel Sheila Nicoll?)

Grafik: Secara global, prosentase investor yang ingin belajar lebih jauh tentang investasi mereka adalah tinggi

Label alt gambar: Grafik yang menunjukkan prosentase investor di seluruh dunia yang ingin meningkatkan pemahaman investasi. (jangan tunjukkan pada halaman)

 

Penasihat investasi perlu melibatkan diri

Sementara ada keinginan sehat di kalangan investor untuk belajar sendiri – 42% ingin melakukan riset sendiri lewat situs web keuangan independen – setengahnya (50%) masih ingin berbicara kepada penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi final.

Mungkin yang mengejutkan, karena mengingat betapa cepat teknologi bergerak maju di dunia keuangan, generasi milenial (mereka yang berumur antara 18 dan 35 tahun) terlihat paling mau mengindahkan nasihat dari profesional di bidang investasi: 46% investor milenial mengatakan ingin meningkatkan pemahaman akan investasi dengan berbicara kepada penasihat keuangan, dibandingkan dengan 41% untuk investor yang berusia 36 tahun ke atas.

Ketika  benar-benar menyangkut pengambilan sebuah keputusan investasi, para milenial lagi-lagi lebih mungkin untuk berbicara lebih dahulu kepada seorang penasihat keuangan dengan lebih dari setengah (51%) yang mungkin menginginkan kontak manusia, dibandingkan dengan 49% pada kelompok usia 36 tahun ke atas.

Sekalipun kemajuan teknologi dan kelahiran “penasihat robot”, dengan situs web mengajukan pertanyaan tentang risiko dan tujuan investasi sebelum menawarkan solusi investasi, sebagian besar investor masih lebih suka berbicara kepada seorang penasihat keuangan independen sebelum membuat keputusan investasi akhir.

Grafik: Setengah investor masih ingin berbicara kepada profesional keuangan sebelum membuat keputusan investasi

Label alt gambar: Grafik yang menggambarkan bahwa investor masih ingin arahan dari penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi. (jangan tunjukkan pada halaman)

 

Sheila Nicoll, Kepala Kebijakan Publik di Schroders, mengatakan: “Jelas-jelas ada kebutuhan untuk afirmasi  sebelum membuat keputusan investasi, yang menggarisbawahi kebutuhan terhadap firma manajemen investasi dan penasihat keuangan.

“Dunia investasi bisa membuat kita kehilangan akal, lebih-lebih saat ini dengan komplikasi tambahan dari ketidakpastian politis global yang kian membesar. Karena itu, penting bagi mereka yang mengetahui untuk menggunakan pengetahuan itu pada mereka yang memerlukan dan ingin mengetahui.”

Untuk cerita selengkapnya dan infografik interaktif, kunjungi www.schroders.com/gis atau unduh laporan lengkap di bawah.

Anda bisa menguji pemahaman akan investasi dengan alat IQ pendapatan kami, yang akan mengungkapkan perilaku bias Anda dan memberikan kiat bermanfaat untuk memberdayakan Anda agar mampu membuat keputusan investasi yang lebih baik.

Kemunculan penasihat robot membawa satu risiko bagi penasihat keuangan, tetapi Studi Investor Global Schroders 2016 mengungkapkan bahwa investor paling mungkin akan lebih menyukai sentuhan manusiawi.


Informasi Penting:

Informasi dan opini yang terdapat di dalam dokumen ini telah disusun atau diperoleh oleh PT Schroder Investment Management Indonesia ("Schroders Indonesia") dari sumber yang ​​diyakini oleh Schroders Indonesia dapat diandalkan dan dengan itikad yang baik, dan Schroders Indonesia dapat dimungkinkan untuk tidak melakukan verifikasi atau pemeriksaan secara detail/ due diligence terhadap keakuratan informasi tersebut. Semua pendapat atau perkiraan yang terkandung di dalam dokumen ini sepenuhnya berdasarkan penilaian Schroders Indonesia sampai dengan tanggal dokumen ini dibuat dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Informasi yang terkandung dalam dokumen ini disediakan untuk tujuan informasi saja, dan tidak dapat dianggap sebagai jaminan kinerja atau profitabilitas dari portofolio di bawah manajemen Schroders Indonesia. Perlu dipahami dengan baik bahwa nilai investasi bisa mengalami penurunan dan juga bisa mengalami kenaikan dan hal tidak dijamin oleh perusahaan kami.

Isi dari dokumen ini dan semua informasi rahasia yang berkaitan dengan Schroders Indonesia wajib diperlakukan oleh perusahaan berdasarkan aturan pembatasan kerahasiaan. Informasi ini hanya dapat digunakan untuk tujuan menilai proposal kami. Informasi rahasia termasuk (namun tidak terbatas pada):

  • strategi investasi, proses, know-how dan rincian dari mandat investasi yang diusulkan pihak Schroders ';
  • pengaturan biaya dan komisi;
  • informasi tentang nasabah Schroders lainnya ';
  • setiap informasi pihak ketiga yang tunduk pada aturan pembatasan kerahasiaan;
  • data dana kepemilikan, dan
  • rincian staf kami.

Informasi rahasia ini tidak boleh diungkapkan kepada pihak lain/ ketiga dan hanya boleh diungkapkan kepada mereka yang diperlukan untuk menilai informasi tersebut, termasuk karyawan perusahaan anda, agen dan penasihat profesional dengan tujuan mempelajari proposal kami. Anda harus memastikan bahwa orang-orang ini memahami akan sifat kerahasiaan dari informasi tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan aturan pembatasan kerahasian.

Anda memahami dan menyetujui bahwa pengungkapan yang tidak sah atas penggunaan informasi rahasia ini akan menyebabkan kerugian, kerusakan yang diakibatkan oleh tindakan tersebut dan kami berhak untuk memperoleh penggantian rugi tersebut secara penuh.

Anda akan memberikan kembali dan / atau menghancurkan semua informasi rahasia atas permintaan tertulis dari kami.

Baik perusahaan kami maupun perusahaan anda tidak akan mengungkapkan informasi apapun atau membuat pengumuman apapun yang berkaitan dengan dokumen ini tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari antara pihak kecuali seperti yang dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku atau diminta oleh otoritas hukum yang berwenang. Dokumen ini juga berisi istilah indikatif untuk tujuan diskusi saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan satu-satunya dasar bagi evaluasi dari model / investasi yang kami usulkan.

PT Schroder Investment Management Indonesia

Gedung BEI Tower 1 Lantai 30

Jl Jend Sudirman Kav 52-53

Jakarta 12190, Indonesia

PT Schroder Investment Management Indonesia (PT SIMI) telah memperoleh izin sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatan usahanya diawasi oleh OJK.