Tips

Berinvestasi Sebagai Gaya Hidup

09/06/2016

Banyak orang ingin menjadi lebih kaya, tetapi hanya sedikit yang mau untuk mulai berinvestasi. Kita semua mengetahui bahwa, untuk menjadi lebih kaya, kita perlu untuk mulai berinvestasi. Di satu pihak, banyak orang meyakini bahwa mereka perlu untuk memiliki lebih banyak uang untuk mulai berinvestasi. Di pihak lain, agar menjadi lebih kaya, pertama-tama kita harus mulai berinvestasi. Kemudian, kita harus memutus lingkaran dan mengerti bahwa kita perlu untuk menganggap investasi sebagai bagian dari gaya hidup, seperti juga pengeluaran.

Kita cenderung berpikir bahwa kita mulai berinvestasi ketika kita memiliki lebih banyak uang. Sebenarnya, kita perlu berpikir sebaliknya. Untuk memberikan ilustrasi atas beberapa kasus yang ekstrim, 44% dari pemenang undian bangkrut dalam 5 tahun (Fortunes, 15 Jan 2016) dan 70% bangkrut dalam 7 tahun (Time, 12 Jan 2016). Pada kenyataannya, 10 juta pemenang undian kembali hidup bekerja dengan penghasilan yang hanya cukup untuk pengeluaran bulanan dan kembali mengejar bis untuk mengambil kerja sampingan dan berjuang untuk melunasi sewa hanya dalam waktu 9 tahun setelah menguangkan tiket kemenangannya (Business Insider, 19 Mei 2013). Hal ini mungkin terdengar ekstrim. Tetapi, contoh-contoh ini memberikan ilustrasi mengenai bagaimana kebanyakan orang yang menerima sejumlah besar uang secara sekaligus pun tidak menginvestasikan uangnya juga.

Pengalaman pemenang undian tersebut menunjukkan bahwa walaupun dalam suatu kesempatan kita memiliki uang yang sangat banyak, apabila kita tidak dapat mengelolanya dengan baik, uang itu akan hilang secepat sebagaimana kita mendapatkannya. Orang lain mungkin juga dapat menyebutkan fakta bahwa pemenang undian mungkin berada dalam situasi yang sulit di mana teman dan keluarga meminta mereka untuk membagikan sebagian dari kemenangan mereka yang kemudian berujung pada pemenang undian menyanggupi terlalu banyak di mana hal tersebut kemudian mengakibatkan pemenang undian berakhir dengan kesulitan keuangan. Pengalaman pemenang undian tersebut ternyata juga dimiliki oleh kebanyakan keluarga kaya karena 70% darikeluarga kaya kehilangan kekayaan mereka pada generasi kedua (Time, 17 Jun 2015). Menarik untuk diketahui bahwa kebanyakan dari individu-individu ini hidup biasa-biasa saja sesuai kemampuan mereka sebelum mereka memenangkan undian atau menerima warisan. Tambahan “rejeki nomplok” inilah yang kemudian menjadikan mereka bangkrut. Pengalaman ini menyadarkan kita bahwa pada akhirnya, cara kita mengelola dan menginvestasikan penghasilan kita yang ada sekaranglah yang akan menentukan dan bahwa memiliki tambahan uang lebih untuk berinvestasi tidak akan meningkatkan probabilitas kita dalam mengumpulkan kekayaan di masa yang akan datang.

Di pihak lain, hidup Ronald Read adalah bukti bahwa investasi yang tepat bahkan dengan penghasilan yang tidak besar, dapat menghasilkan kekayaan yang besar. Ronald adalah seorang penjaga pompa bensin dan petugas kebersihan yang mengumpulkan kekayaan $8 juta selama masa hidupnya dari manfaat bunga berbunga atas kepemilikannya di pasar ekuitas (CNBC, 9 Feb 2015). Ronald mengakumulasikan kekayaannya tanpa mendapatkan suatu “rejeki nomplok” dari warisan atau memenangkan undian apapun. Tentu saja, $8 juta bukan suatu jumlah yang luar biasa. Tetapi apabila kita mengingat bahwa Ronald hanya mendapatkan penghasilan yang tidak besar, sebagai seorang penjaga pompa bensin dan petugas kebersihan, kita menjadi bertanya-tanya bagaimana caranya mengumpulkan kekayaan tersebut. Pada akhirnya, untuk mengumpulkan kekayaan, kita perlu untuk menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup kita.

Apakah yang dimaksud dengan untuk menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup kita? Kita perlu memastikan bahwa sebagian dari penghasilan kita dikesampingkan untuk berinvestasi. Pada kesempatan pertama, persyaratan ini kedengarannya sangat berat karena persyaratan ini mewajibkan, kelihatannya, suatu disiplin yang berat untuk melakukannya. Namun demikian hal ini adalah apa yang kami maksud untuk menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup kita. Mari kita mengambil satu contoh sederhana, apabila kita menjadikan berlari sebagai bagian dari gaya hidup kita, setiap pelari pasti mengetahui bahwa ada hari-hari di mana sepertinya ada hambatan untuk melakukan latihan 10 km. Namun demikian, untuk kebanyakan orang yang telah menjadikan lari sebagai bagian dari gaya hidup mereka, kita semua mengetahui bahwa ada waktu di mana kita harus disiplin dan melakukan latihan olahraga, bahkan pada hari-hari di mana kita sekedar tidak ingin melakukannya sama sekali.

Kemungkinan, kebanyakan orang tidak menjadikan latihan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Mungkin lebih mudah untuk kita untuk membicarakan pengeluaran sebagai bagian dari gaya hidup kita. Untuk mereka yang menjadikan perjalanan wisata sebagai bagian dari gaya hidup mereka, seringnya, kita perlu disiplin dan menunda pembelian tas atau sepatu itu, sehingga kita dapat mengumpulkan uang yang cukup untuk membayar liburan yang sudah kita impikan itu. Kemudian, kita telah memiliki banyak komponen dalam gaya hidup kita dan kita sering ditanyakan untuk menunda dan memprioritaskan satu hal daripada yang lain. Di lain pihak, pertanyaannya sesungguhnya hanyalah seberapa seriusnya kita menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup kita.

Ketika kita menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup, kita menjadi perlu untuk menghabiskan waktu untuk memeriksa, meriset dan mempelajari investasi dan produk-produk investasi. Hal ini adalah suatu upaya berkelanjutan bukan suatu hal yang sekali terjadi. Kembali lagi ke contoh di atas, mereka yang telah menjadikan lari sebagai bagian dari gaya hidup mereka biasanya akan kemudian menjadi membaca mengenai sepatu lari terbaru dan manfaat dari sepatu tersebut. Sebagian lainnya akan menjadi membaca majalah kesehatan untuk mempelajari mengenai postur berlaku yang benar.

Kemudian, orang yang menjadikan perjalanan wisata sebagai bagian dari gaya hidup mereka, kemudian biasanya membaca-baca mengenai liburan dan majalah liburan untuk mempelajari tujuan-tujuan wisata terbaru. Mereka yang menyukai tas tangan dan bahkan sepatu akan melakukan hal yang sama, memeriksa toko-toko untuk mengetahui barang-barang terbaru dan yang akan datang dan merek dan model yang paling sensasional. Tanpa menyadarinya, kita memberikan banyak upaya untuk mempelajadi hal-hal yang kita jadikan bagian dari gaya hidup kita dan kita menikmati melakukannya!

Dengan demikian, ketika kita menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup kita, kita juga akan menjadi disiplin untuk menempatkan bagian dari penghasilan kita untuk berinvestasi. Kita juga akan berupaya untuk mempelajari produk-produk investasi dan harapan-harapan yang dapat terjadi. Hal ini harus menjadi bagian dari gaya hidup kita dan kita akan menikmati proses untuk melakukannya karena kita sedang mencoba mengembangkan kekayaan kita untuk masa depan. Bagaimanapun juga, berinvestasi tidak memerlukan modal awal yang sangat besar. Di Indonesia, persyaratan minimal untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen keuangan tertentu seperti misalnya reksadana, adalah tidak besar, yaitu pada angka Rp.100.000 (atau kurang dari USD10).

Download

Important Information:

The views and opinions contained herein are those of Teddy Oetomo, Head of Intermediary, and may not necessarily represent views expressed or reflected by PT Schroder Investment Management Indonesia (“Schroders Indonesia”) view. For professional investors and advisers only. This document is not suitable for retail clients. The material is not intended to provide, and should not be relied on for, accounting, legal or tax advice, or investment recommendations. Information herein is believed to be reliable but Schroders Indonesia does not warrant its completeness or accuracy. This does not exclude or restrict any duty or liability that Schroders Indonesia has to its customers under Indonesian laws and regulations.” PT Schroder Investment Management Indonesia (PTSIMI) had received an investment manager license from, and is supervised by the Indonesian Financial Services Authority (OJK).