Highlight Monthly Commentary - April 2022

MAKROEKONOMI

Inflasi Indonesia di Maret tercatat di level 2,64%YoY (vs 2,06% di Februari) / +0,66% MoM. Anggaran negara 1Q22 membukukan surplus sebesar Rp 10,3 triliun (vs surplus Rp19,7 tiliun di 2M22) setara dengan surplus sebesar 0,06% dari PDB. Surplus neraca perdagangan tercatat di angka USD 4,53 miliar vs USD 3,8 miliar pada bulan sebelumnya. BI mempertahankan kebijakan suku bunganya namun merevisi beberapa perkiraan makro. PDB diturunkan ke 4,5 -5,3% dari sebelumnya 4,7 - 5,5% sementara CAD diperkirakan akan membaik ke -1,3% sampai -0,5% dari PDB. Total investasi Indonesia pada 1Q22 naik sebesar 28,5% YoY.

SAHAM

IHSG naik 2,2% di bulan lalu dengan net foreign buy sebesar Rp 41,4 triliun/16,7 triliun di seluruh pasar. Pasar memperoleh banyak sentimen positif yaitu: 1)Pemulihan konsumsi dengan mudik yang diperbolehkan oleh pemerintah 2)Perbaikan makro dan neraca perdagangan dari kenaikan harga-harga komoditas 3)Corporate earnings Q1 yang lebih baik dari yang diharapkan. Indeks berkinerja terbaik adalah IDXIndustrial (+10,4%) didorong oleh otomotif dan bisnis kontrak pertambangan yang mendapatkan manfaat dari kenaikan harga komoditas. Indeks berkinerja terbaik kedua adalah IDXEnergy (+9,3%) dikarenakan beberapa negara-negara Eropa, Jepang dan perusahaan utilitas Korea Selatan menghentikan pembelian batubara dari Rusia. IDXHealth (+5%) membukukan kinerja yang solid karena pasien kembali ke rumah sakit untuk melakukan perawatan yang tertunda akibat pandemi.

Mayoritas indeks global terkoreksi dikarenakan kekhawatiran pengetatan bank sentral dan inflasi yang lebih tinggi. Saham-saham teknologi secara global terkoreksi karena suku bunga meingkat. Pasar Asia tertekan karena China meneruskan kebijakan zero covid cases di tengah meningkatnya kasus di beberapa kotanya. IMF memangkas perkiraan pertumbuhan global karena invasi Rusia.

Kami tetap positif terhadap saham karena valuasi yang menarik dibandingkan pasar saham peers dan reformasi fundamental serta cerita mengenai pemulihan tetap baik. Namun demikian, kami tetap waspada dalam jangka pendek terhadap risiko dari tensi Rusia-Ukraina dan potensi kenaikan inflasi di Indonesia. Sikap pemerintah Indonesia nampaknya juga akan terus melanjutkan pembukaan dan pemulihan ekonomi.

OBLIGASI

Yield obligasi pemerintah 10 tahun naik 25bps ke 6,99% dibandingkan bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, US 10-year treasury notes naik sebesar 59,5 bps ke 2,934%. Yield obligasi meningkat dengan inflasi yang tetap tinggi dan the Fed yang berkomitmen untuk memerangi inflasi menggunakan kebijakan suku bunga. Yield US 10 years treasury bergerak naik sampai ke level 2,974 setelah Mr. Powell menekankan pentingnya mengontrol inflasi dan kenaikan 50bps di pertemuan selanjutnya adalah “mungkin”. Berdasarkan data DMO bond flow per 25 April, kepemilikan asing tercatat sebesar 17,3% dari outstanding dan outflow sebesar Rp 51,5 triliun YTD. Yield Indonesia 10 years USD global bond berada di level 3,81%. Rupiah melemah ke 14.479 per USD.

Inflasi yang meningkat dan kenaikan suku bunga akan menekan pasar obligasi. Menurut kami investor lokal akan menjadi penyokong utama IndoGB dalam waktu dekat sementara investor asing akan berada dalam defensive mode karena US Treasury Yield yang meningkat.

 

Disclaimer

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pandangan dan pendapat yang terkandung di sini adalah pendapat penulis di halaman ini, dan mungkin tidak serta merta mewakili pandangan yang diungkapkan atau tercermin dalam komunikasi, strategi atau produk Schroders lainnya. Materi ini dimaksudkan untuk tujuan informasi saja dan tidak dimaksudkan sebagai bahan promosi dalam hal apapun. Materi ini tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau ajakan untuk pembelian atau penjualan instrumen keuangan apa pun. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan dan tidak boleh diandalkan untuk saran akuntansi, hukum atau pajak, atau rekomendasi investasi. Ketergantungan tidak boleh ditempatkan pada pandangan dan informasi dalam dokumen ini saat mengambil keputusan investasi dan/atau strategi individual. Kinerja masa lalu bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk hasil masa depan. Nilai investasi bisa turun dan naik dan tidak dijamin. Semua investasi mengandung risiko termasuk risiko kemungkinan kehilangan nilai awal investasi. Informasi disini dipercaya bisa diandalkan namun Schroders tidak menjamin kelengkapan atau keakuratannya. Beberapa informasi yang dikutip diperoleh dari sumber ekternal yang menurut kami bisa diandalkan. Tidak ada tanggung jawab yang bisa diterima karena kesalahan fakta yang didapat dari pihak ketiga, dan data ini bisa berubah dengan kondisi pasar. Ini tidak mengecualikan kewajiban atau kewajiban apa pun yang dimiliki Schroders kepada pelanggannya di bawah sistem peraturan yang berlaku.  Kawasan/sektor hanya ditampilkan untuk ilustrasi dan tidak boleh dipandang sebagai rekomendasi untuk membeli/menjual. Pendapat dalam materi ini mencakup beberapa pandangan yang diperkirakan. Kami percaya bahwa kami mendasarkan harapan dan keyakinan kami pada asumsi yang masuk akal dalam batasan dari apa yang saat ini kami ketahui. Namun, tidak ada jaminan dari perkiraan atau opini apapun akan direalisasikan. Pandangan dan pendapat ini mungkin berubah. PT Schroder Investment Management Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Lantai 30, Jl Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190, Indonesia. PT Schroder Investment Management Indonesia telah menerima izin manajer investasi dari, dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK).