Highlight Monthly Commentary - Oktober 2020

MAKROEKONOMI

Inflasi di bulan Oktober tercatat sebesar 1.44% YoY dimana secara bulanan kembali ke inflasi 0.07% MoM yang disebabkan oleh inflasi makanan.

Neraca perdagangan di bulan September tetap positif pada USD2,4 miliar dengan kontraksi ekspor dan impor yang mengecil.

Cadangan devisa turun menjadi USD135.2 milyar di bulan September sementara Bank Indonesia mempertahankan 7DRRR di 4,00% di bulan September.

Defisit anggaran tercatat sebesar 4,16% dari PDB per September dengan adanya beberapa peningkatan dalam belanja negara.

SAHAM

IHSG membukukan return positif di bulan Oktober sebesar 5.3% MoM setelah menutup bulan September di teritori negatif. Investor asing masih membukukan penjualan (net outflow) USD252 juta di bulan Oktober. Pasar didukung terutama oleh disahkannya Omnibus Law yang telah ditunggu-tunggu, meskipun terjadi protes di beberapa kota. Namun, pasar masih didukung oleh investor lokal karena investor asing masih lebih memilih menunggu implementasinya. Gubernur DKI Jakarta telah mengembalikan PSBB Jakarta ke masa transisi sementara pemerintah sedang mempersiapkan peluncuran vaksin COVID-19 dalam beberapa bulan mendatang. Secara global, semua mata tertuju pada pemilihan AS dengan debat calon presiden yang sedang berlangsung selama bulan Oktober.

Pasar saham global mengalami volatilitas pada bulan Oktober menjelang pemilihan AS. Pasar AS sendiri sempat tertekan akibat ketidakpastian pemilu dan stimulus fiskal, serta meningkatnya jumlah infeksi COVID-19. Tren serupa terlihat di Eropa di mana terlihat peningkatan kasus COVID-19 sehingga mendorong Jerman, Perancis, dan Inggris untuk melaksanakan lockdown yang kedua. Pasar Asia bergerak secara beragam karena investor mencoba menilai risiko pemilu AS serta dampaknya terhadap hubungan dengan Cina dan negara-negara Asia lainnya. Pertumbuhan PDB 3Q20 di Cina, AS, dan kawasan Eropa menunjukkan rebound yang kuat dibanding kuartal sebelumnya.

OBLIGASI

Imbal hasil Pendapatan Tetap positif di bulan Oktober karena imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun dari 6,97% menjadi 6,61%. Pasar obligasi juga membukukan arus masuk asing sebesar USD1.5 milyar di bulan Oktober. Seiring meredanya isu independensi Bank Indonesia saat Omnibus Law disahkan, pasar obligasi menikmati peningkatan harga. Investor asing membukukan arus masuk hampir setiap hari selama sebulan dan hal itu membantu penguatan Rupiah. Selain itu, pemberitaan pengembangan vaksin juga turut memberikan sentimen positif ke pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS naik menjadi 0,88% sedangkan imbal hasil INDON30 ditutup pada 2,18%.

 

Disclaimer

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pandangan dan pendapat yang terkandung di sini adalah pendapat penulis di halaman ini, dan mungkin tidak serta merta mewakili pandangan yang diungkapkan atau tercermin dalam komunikasi, strategi atau produk Schroders lainnya. Materi ini dimaksudkan untuk tujuan informasi saja dan tidak dimaksudkan sebagai bahan promosi dalam hal apapun. Materi ini tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau ajakan untuk pembelian atau penjualan instrumen keuangan apa pun. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan dan tidak boleh diandalkan untuk saran akuntansi, hukum atau pajak, atau rekomendasi investasi. Ketergantungan tidak boleh ditempatkan pada pandangan dan informasi dalam dokumen ini saat mengambil keputusan investasi dan/atau strategi individual. Kinerja masa lalu bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk hasil masa depan. Nilai investasi bisa turun dan naik dan tidak dijamin. Semua investasi mengandung risiko termasuk risiko kemungkinan kehilangan nilai awal investasi. Informasi disini dipercaya bisa diandalkan namun Schroders tidak menjamin kelengkapan atau keakuratannya. Beberapa informasi yang dikutip diperoleh dari sumber ekternal yang menurut kami bisa diandalkan. Tidak ada tanggung jawab yang bisa diterima karena kesalahan fakta yang didapat dari pihak ketiga, dan data ini bisa berubah dengan kondisi pasar. Ini tidak mengecualikan kewajiban atau kewajiban apa pun yang dimiliki Schroders kepada pelanggannya di bawah sistem peraturan yang berlaku.  Kawasan/sektor hanya ditampilkan untuk ilustrasi dan tidak boleh dipandang sebagai rekomendasi untuk membeli/menjual. Pendapat dalam materi ini mencakup beberapa pandangan yang diperkirakan. Kami percaya bahwa kami mendasarkan harapan dan keyakinan kami pada asumsi yang masuk akal dalam batasan dari apa yang saat ini kami ketahui. Namun, tidak ada jaminan dari perkiraan atau opini apapun akan direalisasikan. Pandangan dan pendapat ini mungkin berubah. PT Schroder Investment Management Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Lantai 30, Jl Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190, Indonesia. PT Schroder Investment Management Indonesia telah menerima izin manajer investasi dari, dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK).