Highlight Monthly Commentary - September 2020

MAKROEKONOMI

Inflasi di bulan September tercatat 1,42% YoY karena inflasi makanan dan transportasi terus menunjukkan tren deflasi selama bulan September.

Neraca perdagangan di bulan Agustus tetap positif yaitu USD2,3 miliar dengan kontraksi ekspor dan impor yang mengecil. Defisit anggaran tercatat sebesar 3,05% dari PDB per Agustus dengan adanya beberapa peningkatan dalam belanja negara.

Cadangan devisa naik menjadi USD137miliar di bulan Agustus sementara Bank Indonesia  mempertahankan 7DRRR di 4,00% di bulan Agustus.

Stimulus Parlemen juga telah menyetujui APBN 2021 yang kurang lebih sama dengan draft yang dimana dengan perbedaan utama adalah target defisit anggaran yang lebih tinggi sebesar 5,7% dari PDB dan target pertumbuhan pendapatan yang lebih rendah sebesar 2,6% YoY.

SAHAM

IHSG turun di bulan September dengan return sebesar -7.0% MoM. Investor asing membukukan arus keluar sebesar USD1.1 miliar pada bulan September. Penerapan kembali PSBB Jakarta menyebabkan pasar gelisah selama bulan tersebut disamping itu investor juga khawatir dengan isu  seputar RUU Bank Indonesia yang dapat mengurangi independensi bank sentral. Sementara itu, dengan meningkatnya kasus COVID-19 di Eropa, skandal bank global, dan kebuntuan kongres mengenai stimulus fiskal AS berikutnya juga menyebabkan investor global mengalihkan risiko.

Pasar saham secara global juga mengalami tekanan di bulan September. Pasar AS mengakhiri tren   kinerja positif bulanan dikarenakan investor mulai menurunkan ekspektasi pada paket stimulus fiskal yang banyak ditunggu pasar sementara sektor teknologi juga mengalami aksi jual. Investor juga menjadi lebih konservatif mendekati Pemilu AS.  Sama seperti dengan pasar AS, pasar Eropa juga negatif karena meningkatnya kasus COVID-19 dan potensi penundaan dana pemulihan Uni Eropa. Pasar Asia beragam di tengah harapan untuk pemulihan ekonomi dan outlook negara Cina yang tetap kuat dalam hal  pemulihan ekonomi.

OBLIGASI

Imbal hasil Pendapatan Tetap sedikit negatif di bulan September karena imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik tipis dari 6,86% menjadi 6,97%. Pasar obligasi juga mencatat arus keluar asing sebesar USD594 juta di bulan  September. Seperti halnya pasar saham, pasar obligasi juga terpukul akibat isu  independensi Bank Indonesia serta       penerapan kembali PSBB Jakarta. Investor asing lebih mengkhawatirkan masalah independensi bank sentral yang sebelumnya menyebabkan Rupiah terdepresiasi. Namun, Fed yang selalu dovish, inflasi yang rendah, dan imbal hasil riil yang menarik masih membuat pasar obligasi defensif. Sementara itu imbal hasil US Treasury turun menjadi 0,69% sedangkan imbal hasil INDON30 ditutup pada 2,34%.

 

Disclaimer

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pandangan dan pendapat yang terkandung di sini adalah pendapat penulis di halaman ini, dan mungkin tidak serta merta mewakili pandangan yang diungkapkan atau tercermin dalam komunikasi, strategi atau produk Schroders lainnya. Materi ini dimaksudkan untuk tujuan informasi saja dan tidak dimaksudkan sebagai bahan promosi dalam hal apapun. Materi ini tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau ajakan untuk pembelian atau penjualan instrumen keuangan apa pun. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan dan tidak boleh diandalkan untuk saran akuntansi, hukum atau pajak, atau rekomendasi investasi. Ketergantungan tidak boleh ditempatkan pada pandangan dan informasi dalam dokumen ini saat mengambil keputusan investasi dan/atau strategi individual. Kinerja masa lalu bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk hasil masa depan. Nilai investasi bisa turun dan naik dan tidak dijamin. Semua investasi mengandung risiko termasuk risiko kemungkinan kehilangan nilai awal investasi. Informasi disini dipercaya bisa diandalkan namun Schroders tidak menjamin kelengkapan atau keakuratannya. Beberapa informasi yang dikutip diperoleh dari sumber ekternal yang menurut kami bisa diandalkan. Tidak ada tanggung jawab yang bisa diterima karena kesalahan fakta yang didapat dari pihak ketiga, dan data ini bisa berubah dengan kondisi pasar. Ini tidak mengecualikan kewajiban atau kewajiban apa pun yang dimiliki Schroders kepada pelanggannya di bawah sistem peraturan yang berlaku.  Kawasan/sektor hanya ditampilkan untuk ilustrasi dan tidak boleh dipandang sebagai rekomendasi untuk membeli/menjual. Pendapat dalam materi ini mencakup beberapa pandangan yang diperkirakan. Kami percaya bahwa kami mendasarkan harapan dan keyakinan kami pada asumsi yang masuk akal dalam batasan dari apa yang saat ini kami ketahui. Namun, tidak ada jaminan dari perkiraan atau opini apapun akan direalisasikan. Pandangan dan pendapat ini mungkin berubah. PT Schroder Investment Management Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Lantai 30, Jl Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190, Indonesia. PT Schroder Investment Management Indonesia telah menerima izin manajer investasi dari, dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK).