Market Commentary - Q3 2020

MAKROEKONOMI

Inflasi terus mengalami tren penurunan di 3Q20 dimana Indonesia mencatatkan deflasi bulanan selama tiga bulan berturut-turut. Inflasi di bulan September tercatat sebesar 1,42% YoY karena tren deflasi pada harga makanan dan transportasi udara.

Permintaan domestik yang lemah masih menekan impor. Namun, kontraksi  ekspor dan impor mulai menyempit di bulan Agustus, sehingga Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar USD10.9 miliar per Agustus.

Per Agustus, pemerintah telah mencatatkan defisit anggaran sebesar 3,05% dari PDB dengan pengeluaran yang mulai meningkat  menjelang akhir kuartal.

Cadangan valas naik dari USD131 milyar menjadi USD137 milyar di 3Q20.

Bank Indonesia memangkas suku bunga sebesar 25bps pada bulan Juli menjadi 4,00%. Rupiah ditutup pada level Rp14.893 /USD per akhir  September karena mata uang Rupiah mengalami tekanan akibat isu independensi Bank Indonesia.

 

SAHAM

IHSG ditutup negatif di 3Q20 dengan membukukan kinerja sebesar -0,7% QoQ. Pasar terutama didukung oleh investor lokal karena investor asing masih  membukukan arus keluar sebesar USD2 milyar selama kuartal tersebut. Pada Kuartal ini di awali positif setelah kenaikan yang terus menerus dari 2Q20 karena pasar dibanjiri likuiditas sementara investor berharap pada pengembangan dari vaksin. Karena kebijakan pemerintah mendukung pertumbuhan sementara APBN 2021 menunjukkan peningkatan belanja infrastruktur, investor lebih berani mengambil risiko di tengah 3Q20. Namun, hal tersebut berubah arah ketika isu tentang independensi Bank Indonesia muncul dan PSBB lebih ketat kembali diberlakukan di Jakarta.

Sebagian besar pasar saham secara global membukukan kinerja negatif pada 3Q20 sementara pasar Asia membukukan kinerja yang beragam. Setelah membukukan kenaikan yang positif, pasar AS mengalami penurunan pada akhir kuartal karena investor berharap adanya stimulus fiskal lain yang terus tertunda sementara investor mengalihkan risiko sebelum pemilihan umum. Pasar Eropa mengikuti tren yang sama dengan  meningkatnya  kekhawatiran akan kembali meningkatnya kasus COVID-19 dan penundaan dana pemulihan Uni Eropa. Di Asia, pemulihan di negara China berlanjut dengan baik meskipun ketegangan dengan AS menekan negara  Hong Kong. Investor menunggu berita tentang vaksin dan outlook pemulihan ekonomi.

 

OBLIGASI

Pasar obligasi  masih berhasil membukukan kinerja positif pada 3Q20 karena imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun dari 7,2%  menjadi 6,9%. Pasar obligasi mencatat arus keluar asing sebesar USD260 juta di 3Q20. Pasar obligasi mulai positif dengan likuiditas yang cukup, DXY yang lemah, dan bank sentral yang dovish. Apalagi, investor sangat berharap dengan pengembangan pada vaksin. Pasar berbalik arah ketika muncul isu tentang independensi Bank Indonesia yang membuat investor asing menjadi kuatir. Selain itu, penerapan kembali PSBB di   Jakarta juga menimbulkan kekhawatiran  di kalangan investor. Sementara itu, yield US Treasury ditutup stagnan di 0,7% sedangkan imbal hasil INDON30 turun dari 2,6% menjadi 2,3%. Oleh karena itu, selisih antara yield US Treasury dan INDON30 telah menyempit.

 

Disclaimer                                         

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pandangan dan pendapat yang terkandung di sini adalah pendapat penulis di halaman ini, dan mungkin tidak serta merta mewakili pandangan yang diungkapkan atau tercermin dalam komunikasi, strategi atau produk Schroders lainnya. Materi ini dimaksudkan untuk tujuan informasi saja dan tidak dimaksudkan sebagai bahan promosi dalam hal apapun. Materi ini tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau ajakan untuk pembelian atau penjualan instrumen keuangan apa pun. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan dan tidak boleh diandalkan untuk saran akuntansi, hukum atau pajak, atau rekomendasi investasi. Ketergantungan tidak boleh ditempatkan pada pandangan dan informasi dalam dokumen ini saat mengambil keputusan investasi dan/atau strategi individual. Kinerja masa lalu bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk hasil masa depan. Nilai investasi bisa turun dan naik dan tidak dijamin. Semua investasi mengandung risiko termasuk risiko kemungkinan kehilangan nilai awal investasi. Informasi disini dipercaya bisa diandalkan namun Schroders tidak menjamin kelengkapan atau keakuratannya. Beberapa informasi yang dikutip diperoleh dari sumber ekternal yang menurut kami bisa diandalkan. Tidak ada tanggung jawab yang bisa diterima karena kesalahan fakta yang didapat dari pihak ketiga, dan data ini bisa berubah dengan kondisi pasar. Ini tidak mengecualikan kewajiban atau kewajiban apa pun yang dimiliki Schroders kepada pelanggannya di bawah sistem peraturan yang berlaku.  Kawasan/sektor hanya ditampilkan untuk ilustrasi dan tidak boleh dipandang sebagai rekomendasi untuk membeli/menjual. Pendapat dalam materi ini mencakup beberapa pandangan yang diperkirakan. Kami percaya bahwa kami mendasarkan harapan dan keyakinan kami pada asumsi yang masuk akal dalam batasan dari apa yang saat ini kami ketahui. Namun, tidak ada jaminan dari perkiraan atau opini apapun akan direalisasikan. Pandangan dan pendapat ini mungkin berubah.

PT Schroder Investment Management Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Lantai 30, Jl Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190, Indonesia. PT Schroder Investment Management Indonesia telah menerima izin manajer investasi dari, dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK).