Schroders Indonesia Monthly Market Recap & Commentary – Agustus 2022

MAKROEKONOMI

PDB Indonesia 2Q melampaui ekspektasi yaitu di level +5,44%YoY vs perkiraan 5,2%. Neraca perdagangan di bulan Juli mencatatkan surplus sebesar USD 4,22 miliar vs ekspektasi USD3,95 miliar. Transaksi berjalan Indonesia 2Q juga membukukan surplus USD3,85 miliar atau setara dengan 1,1% dari PDB. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25bps menjadi 3,75%. Inflasi di bulan Agustus tercatat sebesar 4,69% YoY atau deflasi sebesar 0,21% MoM.

SAHAM

IHSG naik 3,3% selama bulan Agustus dengan net foreign buy sebesar sekitar Rp 7,5 triliun. Earnings yang lebih baik dari ekspektasi ditambah dengan serangkaian data makro yang solid dan stabilnya harga minyak telah menarik investor asing kembali ke pasar Indonesia. Reaksi pasar diredam dengan kenaikan BI rate yang tidak terduga, namun investor berhati-hati menjelang akhir bulan karena pemerintah sedang memperhitungkan dan mempertimbangkan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak. Indeks berkinerja terbaik adalah IDXInfrastructure (+5,5%) yang ditopang oleh perusahaan telekomunikasi dan menara seiring menurunnya persaingan dan membaiknya kondisi makro yang menguntungkan sektor tersebut. IDXEnergy (+2,2%) berada di posisi kedua berkat kenaikan harga batubara. IDXCyclical (-1,7%) adalah indeks dengan kinerja terburuk yang disebabkan oleh perusahaan-perusahaan retailers dan media.

Indeks AS dan Eropa turun akibat pernyataan hawkish the Fed, sementara indeks Asia bervariasi. The Fed mengakui bahwa kebijakan yang ketat akan berarti pertumbuhan yang lebih lambat dan pasar tenaga kerja yang melemah, namun dampak kegagalan dalam memulihkan stabilitas harga akan lebih buruk daripada itu. PBOC memangkas suku bunga untuk memacu pertumbuhan. Inflasi masih meningkat di banyak negara karena harga pangan dan energi yang lebih tinggi.

Kami memperkirakan berlanjutnya volatilitas di pasar menyusul kekhawatiran resesi global di belakang lingkungan inflasi yang lebih tinggi dan situasi geopolitik. Kenaikan harga bahan bakar yang akan datang juga dapat mengakibatkan reaksi spontan ke pasar saham, meskipun menurut kami dampaknya akan sehat untuk jangka panjang.

OBLIGASI

Yield obligasi pemerintah Indonesia 10 tahun flat di 7,13% dibandingkan bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, US 10-year treasury note meningkat 54,7bps menjadi 3,198%. Yield US 10-year treasury note tersebut naik karena The Fed mempertahankan sikap hawkishnya. The Fed Reserve Chairman menegaskan kembali fokus bank sentral untuk menurunkan inflasi ke target 2% dalam pertemuan Jackson Hole. Dia juga berpendapat bahwa memulihkan stabilitas harga akan memerlukan sikap kebijakan ketat yang ketat untuk beberapa waktu dan The Fed akan menghindari pelonggaran kebijakan yang prematur. Yield Indonesia 10 years USD global bond berada di level 4,04%. Sementara IDR flat di 14.843.

Inflasi yang lebih tinggi dan kenaikan suku bunga tetap menjadi tantangan bagi pasar obligasi meskipun kami berpikir bahwa sentimen negatif sebagian besar telah diperhitungkan, yang tercermin oleh arus keluar asing yang besar secara YTD. Kami berpikir bahwa kepemilikan asing yang rendah atas obligasi pemerintah yaitu sekitar 15% akan membatasi downside di pasar obligasi. Oleh karena itu, jika pasar terkoreksi dan yield melonjak, investor asing mungkin melihat untuk masuk kembali pada entry point yang menarik. Namun, risiko inflasi juga akan membatasi upside pada saat ini, oleh karena itu, kami tidak memperkirakan rally yang besar di pasar obligasi dalam jangka pendek.

 

Disclaimer

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pandangan dan pendapat yang terkandung di sini adalah pendapat penulis di halaman ini, dan mungkin tidak serta merta mewakili pandangan yang diungkapkan atau tercermin dalam komunikasi, strategi atau produk Schroders lainnya. Materi ini dimaksudkan untuk tujuan informasi saja dan tidak dimaksudkan sebagai bahan promosi dalam hal apapun. Materi ini tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau ajakan untuk pembelian atau penjualan instrumen keuangan apa pun. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan dan tidak boleh diandalkan untuk saran akuntansi, hukum atau pajak, atau rekomendasi investasi. Ketergantungan tidak boleh ditempatkan pada pandangan dan informasi dalam dokumen ini saat mengambil keputusan investasi dan/atau strategi individual. Kinerja masa lalu bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk hasil masa depan. Nilai investasi bisa turun dan naik dan tidak dijamin. Semua investasi mengandung risiko termasuk risiko kemungkinan kehilangan nilai awal investasi. Informasi disini dipercaya bisa diandalkan namun Schroders tidak menjamin kelengkapan atau keakuratannya. Beberapa informasi yang dikutip diperoleh dari sumber ekternal yang menurut kami bisa diandalkan. Tidak ada tanggung jawab yang bisa diterima karena kesalahan fakta yang didapat dari pihak ketiga, dan data ini bisa berubah dengan kondisi pasar. Ini tidak mengecualikan kewajiban atau kewajiban apa pun yang dimiliki Schroders kepada pelanggannya di bawah sistem peraturan yang berlaku.  Kawasan/sektor hanya ditampilkan untuk ilustrasi dan tidak boleh dipandang sebagai rekomendasi untuk membeli/menjual. Pendapat dalam materi ini mencakup beberapa pandangan yang diperkirakan. Kami percaya bahwa kami mendasarkan harapan dan keyakinan kami pada asumsi yang masuk akal dalam batasan dari apa yang saat ini kami ketahui. Namun, tidak ada jaminan dari perkiraan atau opini apapun akan direalisasikan. Pandangan dan pendapat ini mungkin berubah. PT Schroder Investment Management Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Lantai 30, Jl Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190, Indonesia. PT Schroder Investment Management Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK).