AS mengungguli Eropa di tabel liga keberlanjutan Schroders


Orang Indonesia lebih fokus pada keberlanjutan dibandingkan dengan negara lain, menurut sebuah studi utama tentang perilaku orang-orang di 30 negara yang berinvestasi.

Schroders Global Investor Study 2017 (GIS), yang melakukan survei kepada 22.100 investor di seluruh dunia, menemukan bahwa Negara-negara Asia mendominasi Liga Investasi Berkelanjutan baik tingkat atas maupun bawah. India berada di urutan kedua dan China di peringkat  keempat.

Amerka Serikat (ke 3) dan Brasil (ke 5) termasuk negara-negara teratas di Amerika, sedangkan tidak ada negara dari Eropa Barat yang masuk dalam 10 besar. Mungkin mengejutkan, mengingat masalah ekonomi dan keuangannya, Rusia (ke 10) merupakan negara Eropa yang memiliki peringkat teratas. Kemudian diikuti oleh Swedia (ke 11) dan Portugal (ke 13) sedangkan Denmark (ke 25) mendekati tingkat terbawah meskipun memiliki reputasi Skandinavia yang progresif.

Sikap masyarakat di Inggris (ke 15) dan Prancis (ke 16) menempatkan  investor mereka di posisi tengah pada liga sedangkan negara besar Eropa lainnya lebih mendekati peringkat bawah: Italia (ke 22) Jerman (ke 23).

Sebagai bagian dari penelitian, investor diberikan pertanyaan tentang pemahaman mereka mengenai apa yang dimaksud dengan berinvestasi secara berkelanjutan, bagaimana sikap berkelanjutan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dan berapa banyak yang mereka investasikan untuk produk-produk berkelanjutan. Poin yang diberikan tergantung pada jawaban mereka dan kemudian dirata-ratakan per investor berdasarkan negara untuk mendapatkan skor keseluruhan. Hasil GIS lengkap dapat dibuka di sini (editor web harus memasukkan tautan).

Liga Investasi Berkelanjutan 2017

Sumber: Studi Investor Global Schroders 2017

Peringkat tinggi Indonesia mungkin, sebagian, dapat dijelaskan oleh tingginya permintaan produk yang sesuai dengan sharia, yang sejalan dengan kode moral dan hukum agama Islam, dan dapat dianggap sebagai investasi yang bertanggung jawab secara sosial. Tetapi ada juga pengelompokan di atas bagian tabel ekonomi pasar negara berkembang - termasuk China, Brasil, dan India - di mana keresahan sosial dan tantangan lingkungan  sangat akut. Kesulitan ini mungkin membantu mempertajam perhatian terhadap isu-isu tersebut.

Negara asia yang pasarnya dianggap lebih berkembang mendapatkan nilai yang buruk. Hong Kong (ke 28), Korea Selatan (ke 29) dan Jepang (ke 30) menempati tiga urutan terbawah pada tabel liga.   Definisi berinvestasi secara berkelanjutan  bervariasi namun secara luas melibatkan perusahaan pendukung  yang memiliki pendekatan yang paling bertanggung jawab terhadap isu-isu lingkungan, sosial, dan pemerintahan, dan mendesak mereka yang tidak melakukan hal tersebut

Jessica Ground, Head of Sustainability di Schroders, mengatakan:

“Minat konsumen terhadap keberlanjutan sedang sedang meningkat dan secara mengejutkan cukup kuat di beberapa area.

“ini mendorong untuk melihat begitu banyak fokus terhadap investasi secara berkelanjutan di banyak negara ekonomi berkembang, , terutama populasi besar di China, India, dan Brasil. Ini adalah tren yang kami lihat dalam penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Ini juga menyenangkan  melihat peringkat Amerika Serikat menempati posisi yang sangat tinggi. Kami telah melihat adanya peningkatan dan ketertarikan terhadap isu lingkungan dan sosial di Amerika, yang kontras dengan keluarnya negara tersebut dari perjanjian iklim Paris di awal tahun ini.

“Di sisi lain tabel ini, Jepang yang menempati peringkat bawah tercermin dari jumlah investasi berkelanjutan yang relatif kecil. Berdasarkan pengalaman kami, ini mulai berubah. A panduan pengelolaan perusahaan diperkenalkan di tahun 2015, menetapkan standar yang lebih tinggi bagi perusahaan terbuka, dengan beberapa skandal telah dilaporkan di tahun-tahun terakhir.

“Secara keseluruhan, munculnya minat dalam keberlanjutan sudah dapat diperkirakan. Perubahan sosial dan lingkungan terjadi semakin cepat dibandingkan sebelumnya. Tantangan akibat dari perubahan iklim, ketidaksetaraan, dan demografis memang cukup besar. Perusahaan yang mampu untuk beradaptasi dan tumbuh akan terus mendapatkan keuntungan secara tidak merata, sedangkan yang lainnya akan ketinggalan lebih jauh lagi. Investor semakin menyadari hal ini.”

Tabel liga diperbandingkan dengan tren investasi global

Hasilnya, sebagai bagian dari Studi Investor Global Schroders, hasil yang sama didapatkan dari penelitian serupa di Studi Investor Global Schroders 2016(editor web harus memasukkan tautan).

Hasil tersebut juga menarik untuk dibandingkan dengan data industri, seperti angka yang dihasilkan oleh Aliansi Investasi Keberlanjutan Global (Global Sustainable Investment Alliance atau GSIA). Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan investasi secara berkelanjutan di beberapa wilayah dan negara tertentu. Meskipun Jepang berada di posisi paling bawah pada Liga Investasi Schroders, investasi secara berkelanjutan adalah industri yang tumbuh dengan pesat di negara tersebut. Penelitian GSIA yang paling terbaru di 2016 menunjukkan aset investasi secara berkelanjutan di Jepang telah tumbuh dengan laju 724% per tahun, meskipun dimulai dari tingkat bawah.

Eropa tetap menjadi wilayah yang menerima investasi terbesar dengan lebih dari $12 triliun yang diinvestasikan dalam aset berkelanjutan, menurut penelitian GSIA. Amerika Serikat adalah kedua dengan $8,7 triliun, sedangkan Kanada, Australia, dan Selandia Baru dan Asia tertinggal di belakang.

Investasi aset berkelanjutan 2014 dan 2016

 

Catatan: Nilai aset dinyatakan dalam miliar.

Aset asia tidak termasuk jepang 2014 dinyatakan dalam dolar AS berdasarkan pada nilai tukar di akhir tahun 2013. Seluruh aset lainnya, berikut dengan seluruh aset 2016, dikonversikan menjadi dolar AS berdasarkan pada nilai tukar di akhir tahun 2015.

Sumber: Aliansi Investasi Keberlanjutan Global (Global Sustainable Investment Alliance).

 

Informasi Penting:

Schroders menugaskan Research Plus Ltd untuk melakukan, antara 1 Maret dan 30 Juni 2017, studi online independen terhadap 22.100 investor di 30 negara di seluruh dunia, yang meliputi Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Belanda, Spanyol, Inggris, dan AS. Riset ini mendefinisikan ‘investor’ sebagai orang-orang yang akan menginvestasikan paling sedikit €10.000 (atau setara) di dalam 12 bulan ke depan dan telah membuat perubahan pada investasi mereka dalam sepuluh tahun terakhir. Orang-orang ini mewakili pandangan investor di masing-masing negara yang diikutsertakan dalam studi.