Schroders Indonesia Monthly Market Recap & Commentary – Oktober 2022

MAKROEKONOMI

Inflasi Indonesia di bulan Oktober turun menjadi +5,71% YoY dari +5,95% YoY di bulan September. BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50bps menjadi 4,75%. Surplus perdagangan Indonesia di bulan September tercatat sebesar USD4,99 miliar. Surplus anggaran Indonesia 9M22 tercatat sebesar Rp60,9 triliun dari Rp107,4 triliun di bulan sebelumnya. Indeks kepercayaan konsumen di bulan September turun menjadi 117,2 dari 124,7 pada bulan sebelumnya.

SAHAM

IHSG naik 0,8% dalam satu bulan terakhir dengan net foreign buy sekitar Rp 11,3 triliun. Pelemahan Rupiah menjadi penghambat dan menyebabkan indeks turun ke level 6.800 di pertengahan bulan. Indeks berbalik arah dan rebound saat musim pengumuman Laporan Keuangan kuartal ke-3  dimulai dan BI menaikkan suku bunga acuan untuk mengelola stabilitas mata uang. Sektor berkinerja terbaik adalah IDXEnergy (+7,8%) karena harga energi tetap tinggi. IDXNonCyclicalConsumer (+5,3%) mencatat kinerja yang solid karena pemulihan volume, penurunan harga soft commodity, dan beberapa diuntungkan dari USD yang kuat di pasar ekspor. IDXTechnology (-7,3%) adalah yang berkinerja terburuk di tengah kenaikan suku bunga dan jalurnya menuju profitabilitas tetap menantang.

Sebagian besar indeks global mencatatkan kinerja positif didukung oleh Laporan Keuangan kuartal ke-3  yang solid di tengah perlambatan pertumbuhan dan pengetatan bank sentral. Pasar China berkinerja buruk dibandingkan peers karena kontrol ekspor chip AS dan penerapan zero covid policy yang berlanjut.

Kami tetap positif namun berhati-hati pada saham karena fundamental reform & recovery story tetap baik. Namun, kami memperkirakan berlanjutnya volatilitas di pasar menyusul kekhawatiran resesi global karena kondisi inflasi yang lebih tinggi dan situasi geopolitik. Kenaikan harga BBM baru-baru ini akan mendorong inflasi dan kami telah melihat Bank Indonesia menjadi lebih hawkish dalam menyesuaikan suku bunga acuannya. Meski bantuan langsung tunai dari pemerintah diharapkan dapat mendorong konsumsi, daya beli masyarakat perlu diwaspadai terutama di segmen menengah ke bawah. Selain itu, tekanan pada Rupiah juga dapat menjadi hambatan bagi pasar saham meskipun kami berpikir bahwa Bank Indonesia dapat masuk dan memberikan support bila diperlukan.

OBLIGASI

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia 10 tahun meningkat 16,4bps menjadi 7,537% dibandingkan bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, US 10-year treasury note meningkat 17,5bps menjadi 4,010%. US 10-year treasury note mencapai level 4,2% setelah rilis data NFP dan ekspektasi kenaikan FFR 75bps pada pertemuan FOMC November mendatang. Yield turun pada minggu lalu karena data menunjukkan bahwa inflasi membaik.

Inflasi yang lebih tinggi dan kenaikan suku bunga tetap menjadi tantangan bagi pasar obligasi meskipun kami berpikir bahwa sentimen negatif sebagian besar telah diperhitungkan yang tercermin oleh foreign outflow yang besar secara YTD. Kami berpikir bahwa kepemilikan asing yang rendah dalam obligasi pemerintah yaitu sekitar 15% akan membatasi downside di pasar obligasi. Oleh karena itu, jika pasar terkoreksi dan yield melonjak, investor asing mungkin melihat untuk masuk kembali pada titik yang menarik. Namun, risiko inflasi juga akan membatasi upside pada saat ini, oleh karena itu, kami tidak memperkirakan rally besar di pasar obligasi dalam jangka pendek.

 

Disclaimer

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pandangan dan pendapat yang terkandung di sini adalah pendapat penulis di halaman ini, dan mungkin tidak serta merta mewakili pandangan yang diungkapkan atau tercermin dalam komunikasi, strategi atau produk Schroders lainnya. Materi ini dimaksudkan untuk tujuan informasi saja dan tidak dimaksudkan sebagai bahan promosi dalam hal apapun. Materi ini tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau ajakan untuk pembelian atau penjualan instrumen keuangan apa pun. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan dan tidak boleh diandalkan untuk saran akuntansi, hukum atau pajak, atau rekomendasi investasi. Ketergantungan tidak boleh ditempatkan pada pandangan dan informasi dalam dokumen ini saat mengambil keputusan investasi dan/atau strategi individual. Kinerja masa lalu bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk hasil masa depan. Nilai investasi bisa turun dan naik dan tidak dijamin. Semua investasi mengandung risiko termasuk risiko kemungkinan kehilangan nilai awal investasi. Informasi disini dipercaya bisa diandalkan namun Schroders tidak menjamin kelengkapan atau keakuratannya. Beberapa informasi yang dikutip diperoleh dari sumber ekternal yang menurut kami bisa diandalkan. Tidak ada tanggung jawab yang bisa diterima karena kesalahan fakta yang didapat dari pihak ketiga, dan data ini bisa berubah dengan kondisi pasar. Ini tidak mengecualikan kewajiban atau kewajiban apa pun yang dimiliki Schroders kepada pelanggannya di bawah sistem peraturan yang berlaku.  Setiap referensi ke sektor/negara/saham/efek surat berharga hanya untuk tujuan ilustrasi semata dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen keuangan/efek surat berharga atau mengadopsi strategi investasi apa pun. Pendapat dalam materi ini mencakup beberapa pandangan yang diperkirakan. Kami percaya bahwa kami mendasarkan harapan dan keyakinan kami pada asumsi yang masuk akal dalam batasan dari apa yang saat ini kami ketahui. Namun, tidak ada jaminan dari perkiraan atau opini apapun akan direalisasikan. Pandangan dan pendapat ini mungkin berubah. PT Schroder Investment Management Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Lantai 30, Jl Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190, Indonesia. PT Schroder Investment Management Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK).