Schroders Indonesia Monthly Market Recap & Commentary – September 2022

MAKROEKONOMI

Pemerintah menaikkan harga BBM karena harga minyak dan konsumsi meningkat; namun mengalokasikan lebih banyak anggaran subsidi untuk keluarga berpenghasilan rendah. APBN 8M22 mencatatkan surplus sebesar Rp107,4 triliun atau +0,6% dari PDB. Surplus perdagangan Agustus tercatat sebesar USD5,76 miliar. BI menaikkan suku bunga sebesar 50bps (lebih tinggi dari ekspektasi konsensus yaitu 25bps) menjadi 4,25% sebagai langkah pre-emptive dan front loading akan kenaikan inflasi dan penguatan dollar. Inflasi di bulan September meningkat 5,95%YoY/+1,17%MoM.

SAHAM

IHSG turun 1,9% dalam satu bulan terakhir dengan net foreign buy sekitar Rp 3 triliun. Selama sebulan, IHSG mencatatkan rekor tertinggi barunya di 7.377 ditopang oleh neraca perdagangan yang kuat dan inflasi yang terkendali. Rally indeks didorong oleh inflow asing yang mengapresiasi solidnya perekonomian Indonesia di tengah gejolak global. Asing melakuakan aksi ambil untung dan menjadi net seller pada minggu terakhir bulan September karena IDR terdepresiasi ke level 15.250 terhadap USD. Hanya 2 sektor yang membukukan kinerja bulanan positif: IDXHealthcare (+4,3%) dan IDXEnergy (+1,1%) karena investor berbalik defensif dan mencari proxy dari harga komoditas yang lebih tinggi dan dollar yang lebih kuat. Sektor berkinerja terendah adalah IDXTechnology (-11%) dalam kondisi suku bunga yang lebih tinggi.

Pasar global jatuh karena negara-negara bertarung dengan inflasi yang tinggi dan kebijakan suku bunga acuan yang lebih tinggi. Beberapa bank sentral dan pasar memangkas proyeksi pertumbuhan di tengah siklus pengetatan ini. Apresiasi DXY menekan mata uang lainnya dan menyebabkan koreksi di pasar saham dan obligasi global.

Kami tetap positif namun berhati-hati di saham didukung oleh fundamental reform & recovery story yang masih baik. Namun, kami memperkirakan berlanjutnya volatilitas di pasar menyusul kekhawatiran akan resesi global dengan kondisi inflasi yang lebih tinggi dan situasi geopolitik. Tekanan pada Rupiah juga dapat menambah tekanan pada pasar saham meskipun kami berpikir bahwa Bank Indonesia dapat melakukan intervensi dan memberikan support bila diperlukan. Oleh karena itu, kami mempertahankan posisi defensif kami terhadap value untuk melindungi dari ketidakpastian di pasar. 

OBLIGASI

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun meningkat 24,6 bps menjadi 7,373% dibandingkan bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, imbal hasil the US 10-year treasury note meningkat sebesar 63,1 bps menjadi 3,829%. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75bps menjadi 3-3,25%, dimana Fed telah meningkatkan 300bps YTD. Sebagian besar peserta FOMC mengharapkan peningkatan lebih lanjut di FY22 menjadi 4,25-4,5% (perkiraan rata-rata 4,4%) dan kenaikan 25bps lainnya menjadi 4,5-4,75% (perkiraan median 4,6%) FY23. Imbal hasil Indonesia 10-years USD global bond sebesar 5,22%. IDR terdepresiasi sebesar 2,76% menjadi 15.253 vs USD.

Inflasi yang lebih tinggi dan kenaikan suku bunga masih menjadi tantangan bagi pasar obligasi meskipun kami berpikir bahwa sentimen negatif sebagian besar telah diperhitungkan, yang tercermin oleh arus keluar asing yang besar secara YTD. Namun, risiko inflasi juga akan membatasi upside pada saat ini, oleh karenanya, kami tidak memperkirakan rally yang signifikan di pasar obligasi dalam jangka pendek.

 

Disclaimer

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pandangan dan pendapat yang terkandung di sini adalah pendapat penulis di halaman ini, dan mungkin tidak serta merta mewakili pandangan yang diungkapkan atau tercermin dalam komunikasi, strategi atau produk Schroders lainnya. Materi ini dimaksudkan untuk tujuan informasi saja dan tidak dimaksudkan sebagai bahan promosi dalam hal apapun. Materi ini tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau ajakan untuk pembelian atau penjualan instrumen keuangan apa pun. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan dan tidak boleh diandalkan untuk saran akuntansi, hukum atau pajak, atau rekomendasi investasi. Ketergantungan tidak boleh ditempatkan pada pandangan dan informasi dalam dokumen ini saat mengambil keputusan investasi dan/atau strategi individual. Kinerja masa lalu bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk hasil masa depan. Nilai investasi bisa turun dan naik dan tidak dijamin. Semua investasi mengandung risiko termasuk risiko kemungkinan kehilangan nilai awal investasi. Informasi disini dipercaya bisa diandalkan namun Schroders tidak menjamin kelengkapan atau keakuratannya. Beberapa informasi yang dikutip diperoleh dari sumber ekternal yang menurut kami bisa diandalkan. Tidak ada tanggung jawab yang bisa diterima karena kesalahan fakta yang didapat dari pihak ketiga, dan data ini bisa berubah dengan kondisi pasar. Ini tidak mengecualikan kewajiban atau kewajiban apa pun yang dimiliki Schroders kepada pelanggannya di bawah sistem peraturan yang berlaku.  Setiap referensi ke sektor/negara/saham/efek surat berharga hanya untuk tujuan ilustrasi semata dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen keuangan/efek surat berharga atau mengadopsi strategi investasi apa pun. Pendapat dalam materi ini mencakup beberapa pandangan yang diperkirakan. Kami percaya bahwa kami mendasarkan harapan dan keyakinan kami pada asumsi yang masuk akal dalam batasan dari apa yang saat ini kami ketahui. Namun, tidak ada jaminan dari perkiraan atau opini apapun akan direalisasikan. Pandangan dan pendapat ini mungkin berubah. PT Schroder Investment Management Indonesia, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Lantai 30, Jl Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190, Indonesia. PT Schroder Investment Management Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK).