Investasi berkelanjutan adalah tentang menghasilkan keuntungan yang lebih besar, ujar sebagian besar investor.


Mayoritas investor percaya bahwa alasan utama untuk berinvestasi secara berkelanjutan adalah untuk menghasilkan imbal hasil yang lebih besar, menurut hasil temuan suatu penelitian global utama.

Temuan tersebut menunjukkan investor semakin percaya bahwa dengan mendukung investasi  berkelanjutan, perusahaan yang paling fokus pada pengelolaan masalah lingkungan, sosial dan pemerintahan, akan memberikan hasil yang lebih baik daripada hanya sekedar sebagai pilihan hati nurani.

Studi Investor Global Schroders 2018 (GIS), yang menyurvei lebih dari 22.000 investor di 30 negara juga mencakup definisi tentang investasi berkelanjutan dan menyoroti hambatan yang menghalangi orang untuk berinvestasi lebih banyak pada investasi berkelanjutan.

Investor berpengalaman

Minat yang tumbuh untuk investasi berkelanjutan khususnya di kalangan investor berpengalaman. Studi ini menemukan bahwa orang-orang yang merasa memiliki tingkat pengetahuan investasi yang lebih tinggi lebih banyak menginvestasikan  total portofolio mereka pada investasi berkelanjutan dan mengharapkan imbal hasil yang lebih tinggi pada seluruh portofolio mereka.

Orang yang menganggap diri mereka investor yang ahli/mahir mengatakan bahwa mereka menginvestasikan rata-rata 42% dari portofolio mereka pada investasi  berkelanjutan dan mengharapkan imbal hasil tahunan atas seluruh portofolio investasi mereka sebesar 10,9%, secara rata-rata. Dibandingkan dengan masing-masing 32% dan 8,8%, untuk mereka yang menganggap diri mereka sendiri sebagai investor pemula.

​​​​​​Studi ini mengungkapkan pola berdasarkan generasi. Generasi Millenial mengatakan bahwa mereka berinvestasi lebih banyak pada investasi berkelanjutan secara proporsional dari keseluruhan portofolio mereka dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Orang yang berusia antara 18 dan 36 tahun mengatakan bahwa mereka menginvestasikan rata-rata 41% dari portofolio mereka pada investasi berkelanjutan, dibandingkan dengan 35% bagi mereka yang berusia 37-54 tahun. Bagi mereka yang berusia 55 atau lebih, angkanya adalah 34%.

Apa itu investasi berkelanjutan?

Investasi berkelanjutan telah mendapatkan perhatian yang lebih besar pada dekade terakhir secara global, tetapi definisi mengenai bidang ini dapat membingungkan. Kami menanyakan kepada para investor kalimat apa yang paling tepat menggambarkan tentang "investasi berkelanjutan" dan menemukan beberapa pandangan yang rumit.

Lebih dari setengahnya (52%) mengatakan bahwa itu adalah tentang berinvestasi di perusahaan yang mungkin akan lebih menguntungkan karena mereka proaktif dalam bersiap menghadapi perubahan lingkungan dan sosial.

Kurang dari setengahnya (47%) yang mengatakan itu adalah tentang investasi di perusahaan yang mereka pikir terbaik di kelasnya untuk masalah lingkungan atau sosial atau bagaimana cara perusahaan dijalankan.

Seperempatnya (25%) mengatakan bahwa itu adalah tentang menghindari apa yang disebut “saham dosa”, perusahaan yang terlibat dalam produksi alkohol, tembakau, atau senjata. Hanya 9% yang tidak memberikan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan investasi berkelanjutan.

Siapa yang paling banyak melakukan investasi 'berkelanjutan'?

Di tingkat negara, orang di AS (47%) mengatakan bahwa mereka berinvestasi lebih banyak pada investasi  berkelanjutan secara proporsional dari seluruh portofolio mereka dibandingkan dengan negara lain.

Di Eropa orang Swedia (45%) mengatakan bahwa mereka berinvestasi paling banyak, sementara Tiongkok (45%), Afrika Selatan (45%) dan Indonesia (45%) berinvestasi paling banyak di antara sejumlah pasar negara berkembang. Jepang (24%) berinvestasi paling sedikit.

Ekonomi pasar negara berkembang – termasuk Brasil dan India – di mana keresahan sosial dan tantangan lingkungan secara khusus akut cenderung berinvestasi paling banyak pada investasi berkelanjutan. Kesulitan ini mungkin membantu mempertajam perhatian terhadap berbagai isu tersebut.

Sejumlah negara di Eropa dan di Asia, seperti Korea Selatan, Hong Kong dan Jepang yang dianggap sebagai pasar keuangan negara yang lebih maju, berinvestasi paling sedikit pada investasi berkelanjutan.

Jadi apa yang menghambat investasi berkelanjutan untuk dapat berkembang pesat?

Studi ini juga menemukan bahwa secara global 64% orang telah meningkatkan alokasi mereka pada investasi  berkelanjutan dalam lima tahun terakhir. Meskipun demikian, hambatan untuk berinvestasi secara berkelanjutan tetap ada. Investor menyebutkan kurangnya informasi dan jumlah produk Reksa Dana berkelanjutan yang terbatas sebagai alasan utama.

Ketika mereka ditanya mengenai apa hambatan bagi mereka untuk berinvestasi secara berkelanjutan, tiga jawaban teratas adalah:

Jessica Ground, Head of Sustainability di Schroders, mengatakan:

“Kami telah lama mengetahui bahwa investor tertarik pada produk Reksa Dana investasi berkelanjutan dan bahwa minat tersebut terus tumbuh, tetapi jumlah uang yang mengalir relatif diredam. Studi ini menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

“Tampaknya jelas, bahwa semua orang yang terlibat dalam industri investasi perlu bekerja sama untuk meningkatkan ketersediaan, transparansi, dan saran seputar produk Reksa Dana ini.

“Yang menggembirakan adalah investor memiliki pemahaman yang cukup maju tentang investasi berkelanjutan. Mereka menyadari bahwa menjalankan bisnis secara berkelanjutan pada dasarnya memberikan peluang keberhasilan yang lebih baik untuk beberapa dekade mendatang. Intinya, sebagian besar investor sekarang percaya bahwa investasi berkelanjutan dapat membantu mereka mencapai imbal hasil yang baik.”

Informasi Penting:

Schroders menugaskan Research Plus Ltd untuk melakukan, antara 20 Maret dan 23 April 2018, studi online independen terhadap 22.338 investor di 30 negara di seluruh dunia, yang meliputi Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Belanda, Spanyol, Inggris, dan AS. Riset ini mendefinisikan ‘investor’ sebagai orang-orang yang akan menginvestasikan paling sedikit €10.000 (atau setara) dalam 12 bulan ke depan dan telah membuat perubahan pada investasi mereka dalam sepuluh tahun terakhir. Orang-orang ini mewakili pandangan investor di masing-masing negara yang diikutsertakan dalam studi.